Senin, 22 Oktober 2012

Segalanya tentang AIDS  

All about AIDS 


AIDS



Apa yang dimaksud dengan HIV dan AIDS?


AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, suatu penyakit yang membuat tubuh sulit mencegah terjadinya infeksi penyakit. Virus Human Immunodeficiency (HIV), yang menyebabkan terjadinya penurunan kekebalan tubuh pada manusia, menyebabkan AIDS dengan menginfeksi dan merusak sebagian dari kekebalan tubuh terhadap penyakit, misalnya sel-sel darah putih yang dikenal dengan nama limfosit (tipe sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh yang berguna untuk menahan serbuan kuman penyakit).

HIV dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari seseorang yang telah terinfeksi dengan virus. Kontak tersebut umumnya terjadi karena penggunaan jarum suntik bersama atau hubungan seks tanpa pelindung dengan seseorang yang telah terinfeksi virus. Seorang bayi dapat tertular HIV dari ibu yang terinfeksi.

Meskipun ada obat untuk perawatan penderita HIV dan AIDS, tidak ada vaksin atau obat untuk menyembuhkannya. Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah Anda dan anak-anak Anda terjangkit penyakit ini.

Apa yang Dilakukan HIV Pada Tubuh?
Virus ini menyerang limfosit tertentu yang di sebut sel-sel pembantu T (juga dikenal dengan nama sel-T), mengambil alih, dan menggandakan dirinya. Penggandaan ini akan menyebabkan hancurnya lebih banyak sel-T, yang berakibat rusaknya kemampuan tubuh untuk menahan serbuan kuman dan penyakit.

Saat jumlah sel-T menurun sampai ke tingkat yang paling rendah, orang-orang yang mengidap HIV menjadi lebih mudah terkena infeksi dan mereka biasanya menderita sejenis kanker yang dalam keadaan normal dapat dilawan oleh tubuh yang sehat. Kekebalan tubuh yang menurun ini (atau berkurangnya kekebalan tubuh) dikenal dengan nama AIDS dan dapat berkembang menjadi infeksi berat yang mengancam jiwa, berbagai jenis kanker, dan melemahnya sistem syaraf. Meskipun AIDS selalu merupakan akibat dari infeksi virus HIV, tidak semua orang yang mengidap HIV mengalami AIDS. Bahkan, orang dewasa yang terinfeksi HIV dapat kelihatan sehat wal’afiat selama bertahun-tahun sebelum mereka terkena AIDS.

Seberapa Sering HIV dan AIDS Terjadi?
Kasus pertama terjadinya AIDS dilaporkan pada tahun 1981, akan tetapi penyakit ini mungkin saja telah ada bertahun-tahun sebelum itu tanpa ada catatan. Infeksi HIV yang menyebabkan terjadinya AIDS telah menjadi penyebab terjangkitnya penyakit dan terjadinya kematian pada anak-anak, remaja dan orang dewasa usia muda di seluruh dunia. AIDS berada di urutan ke enam sebagai penyebab kematian untuk rentang usia 15 sampai 24 tahun di Amerika Serikat sejak tahun 1991.

Pada beberapa tahun terakhir, angka penularan AIDS meningkat dengan amat cepat diantara remaja dan orang dewasa muda. Setengah dari seluruh penularan HIV di Amerika Serikat terjadi pada pada orang-orang yang berusia dibawah 25 tahun; ribuan remaja terinfeksi HIV untuk pertama kali setiap tahunnya. Sebagian besar kasus HIV pada orang-orang yang berusia muda ditularkan melalui hubungan seks tanpa pelindung; sepertiganya disebabkan oleh penggunaan obat-obatan terlarang secara bergantian menggunakan jarum yang kotor dan terkontaminasi darah yang terinfeksi HIV.

Pada anak-anak, sebagian besar kasus AIDS dan hampir semua infeksi HIV baru diakibatkan oleh penularan virus HIV dari ibu ke anaknya pada masa kehamilan, kelahiran, atau melalui air susu.

Untungnya, obat-obatan yang saat ini diberikan pada wanita hamil yang positif mengidap HIV telah mengurangi jumlah penularan dari ibu ke anak secara signifikan di Amerika. Obat-obatan ini (seperti akan dijabarkan secara mendetil pada bab Pengobatan dalam artikel ini) juga digunakan untuk memperlambat atau mengurangi efek dari penyakit ini pada orang-orang yang telah terinfeksi. Sayangnya, obat-obatan ini tidak tersedia secara luas di dunia, terutama di negara-negara miskin yang paling terpuruk sebagai akibat dari terjangkitnya epidemi ini. Menyediakan akses ke pengobatan yang dapat menyelamatkan jiwa ini telah menjadi isu yang memiliki kepentingan global.
Aids


Bagaimana HIV Ditularkan?
HIV ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari seseorang yang telah terinfeksi dengan virus HIV.

Ada tiga cara dimana virus HIV ditularkan pada anak-anak
yang masih muda usia, yaitu:


Saat bayi berkembang di dalam rahim ibunya (intrauterine)

Saat kelahiran

Saat menyusu ASI

Pada penderita usia remaja, virus biasanya ditularkan melalui perilaku yang berisiko tinggi, seperti:

Hubungan seks tanpa pelindung (baik secara oral, melalui vagina atau secara anal)

Penggunaan jarum suntik secara bergantian untuk menyuntikkan narkoba atau bahan-bahan lain (termasuk juga jarum terkontaminasi yang digunakan untuk menyuntikkan steroid dan membuat tato pada tubuh)

Pada kasus yang sangat jarang terjadi, HIV juga ditularkan melalui kontak langsung dengan luka pada tubuh seseorang yang telah terinfeksi (virus dapat masuk melalui luka potong atau luka gores pada tubuh seseorang yang sehat) dan juga melalui transfusi darah. Sejak 1985, persediaan darah di Amerika Serikat telah melalui pemeriksaan untuk menghindari adanya darah yang terinfeksi HIV.


Tanda dan Gejala HIV
Meskipun mungkin tidak terdapat tanda-tanda fisik pada infeksi HIV yang terjadi saat kelahiran, tanda-tanda infeksi bisa terlihat pada 2 atau 3 bulan setelah seorang anak dilahirkan. Anak-anak yang terlahir dengan HIV bisa terkena infeksi oportunistik.

Seorang bayi yang terlahir dengan kondisi terinfeksi HIV akan kelihatan sehat wal’afiat. Tetapi kadang-kadang, antara 2 sampai 3 bulan setelah kelahirannya, bayi yang terinfeksi akan mulai kelihatan sakit-sakitan, dengan pertambahan berat badan yang kurang, infeksi jamur di mulut yang kerap kali terjadi (trush – sariawan), limpa yang bengkak dan membesar, pembesaran hati atau limpa, masalah dengan sistem syaraf, infeksi berbagai jenis bakteri, termasuk juga radang paru-paru (pneumonia).

Para remaja dan orang dewasa muda yang terinfeksi HIV biasa tidak menunjukkan tanda-tanda pada saat mereka terinfeksi. Bahkan, terkadang gejala-gejalanya baru kelihatan setelah 10 tahun atau lebih. Selama masa tersebut, mereka dapat menularkan virus tanpa mereka sendiri mengetahui bahwa mereka mengidap virus tersebut. Segera setelah gejala AIDS terlihat, penderita dapat kehilangan berat badan secara drastis, merasakan kelelahan yang sangat, mengalami pembengkakan limpa, diare berkepanjangan, berkeringat di malam hari, atau pneumonia. Mereka juga akan sangat rentan terkena infeksi yang dapat mengancam hidup mereka.


Ada 3 fase gejala HIV
Fase 1 : Tidak ada gejala. Pada tahap awal HIV, gejalanya tidak kelihatan. Seseorang dapat saja mengidap AIDS selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Tes darah oleh dokter akan menunjukkan antibodi setelah mereka terbentuk dalam rangka melawan virus AIDS, tapi perlu waktu tiga bulan sebelum antibodi tersebut terbentuk. Artinya bila Anda melakukan tes darah segera setelah Anda berhubungan seks, virusnya belum akan kelihatan sampai tiga bulan yang akan datang.

Fase 2 : Sakit yang tidak terlalu parah. Pada tahap ini, virus berkembang di dalam sel darah putih dan menghancurkannya. Saat hampir seluruh sel telah dihancurkan, sistem kekebalan juga ikut hancur dan tubuh akan menjadi lemah. Beberapa gejala yang mungkin akan kelihatan adalah : penderita mulai merasa lelah, berat badan turun. Mereka mungkin akan terkena sakit batuk, diare, demam atau berkeringat di malam hari. Pengidap HIV yang terkena selesma akan lebih terancam jiwanya dibandingkan orang lain yang tidak mengidap HIV.

Fase 3: Sakit parah. Pada saat ini, virus AIDS telah hampir menghancurkan sistem kekebalan tubuh. Tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan bakteri. Selain itu, penderita juga dapat terkena sejenis kanker yang disebut Sarkoma Kaposi. AIDS tidak membunuh penderitanya, tapi infeksi penyakit lainnya dan kankerlah yang melakukannya.

Diagnosis Terhadap Infeksi HIV dan AIDS
Setiap wanita hamil harus menjalani tes HIV agar pencegahan penularan dari ibu ke anak dapat dilakukan lebih dini. Meskipun wanita tersebut telah memiliki anak sebelumnya dan anak-anak tersebut kelihatan sehat, mereka dapat saja terinfeksi HIV apabila wanita tersebut telah positif mengidap HIV pada saat mereka lahir. Tes darah diperlukan untuk memastikan hal tersebut.

Meskipun demikian, bila seorang bayi baru saja dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV, tidak ada cara yang pasti untuk mangetahui apakah bayi tersebut terinfeksi virus HIV. Hal ini dikarenakan bila sang ibu terinfeksi, tes ELISA yang dilakukan untuk memeriksa adanya antibodi HIV yang terdapat dalam darah bayi yang baru lahir hampir selalu menunjukkan tanda positif, karena darah bayi yang baru lahir akan mengandung antibodi HIV yang dibawa dari ibu yang terinfeksi HIV (melalui plasenta) meskipun bayi tersebut belum tentu terinfeksi HIV. Bayi-bayi ini mungkin akan tetap memiliki kandungan antibodi HIV yang positif sampai 8 bulan setelah kelahiran mereka, meskipun mereka tidak terinfeksi.

Anak yang terinfeksi HIV dari ibu mereka akan mulai membangun antibodi HIV sendiri dan biasanya akan menunjukkan hasil HIV positif setelah mereka berusia 18 bulan.
Anak-anak yg usianya lebih tua, remaja dan orang dewasa tes dilakukan untuk mencari infeksi HIV dengan menggunakan tes darah yang dikenal dengan nama tes ELISA (enzyme-linked immunoabsorbent assay), yang mendeteksi adanya antibodi HIV dalam darah. Antibodi adalah sejenis protein yang diproduksi oleh tubuh sebagai merespons terhadap infeksi HIV. Seseorang yang memiliki antibodi terhadap HIV disebut sebagai positif HIV. Bila hasil tes ELISA menunjukkan hasil positif maka hasil tersebut selalu ditegaskan dengan tes lain yang disebut Western blot. Bila kedua tes ini hasilnya positif, maka pasien tersebut hampir pasti terinfeksi dengan virus HIV.

Diagnosis yang paling akurat dari infeksi HIV pada anak-anak usia belia datang dari hasil tes yang menunjukkan adanya virus tersebut (bukan antibodi HIV-nya) dalam tubuh. Tes-tes ini termasuk juga kultur virus HIV dan PCR (polymerase chain reaction), suatu tes darah yang mencari adanya DNA virus HIV.

Dapatkah Anak Kecil Menularkan HIV?
Di seluruh Amerika Serikat, hanya ada sedikit kasus yang dilaporkan, dimana infeksi HIV ditularkan dari seorang anak pada orang lain. Kasus-kasus tersebut melibatkan adanya kontak langsung antara darah penderita dengan penghuni rumah yang lain. Kotoran khas bayi (urine, ludah, gumoh, muntah, feses, dll) tampaknya tidak menularkan virus, sehingga perawatan rutin untuk bayi yang terinfeksi HIV dianggap aman.

Meskipun ada kekhawatiran yang menyebar luas, tidak ada laporan penularan virus HIV di dalam sekolah atau lokasi tempat penitipan anak. Karena bahaya penularan HIV harus melibatkan adanya kontak langsung dengan darah, karyawan yang bekerja di sekolah-sekolah dan tempat penitipan anak harus secara rutin menggunakan sarung tangan saat menangani anak yang terluka gores, terpotong atau berdarah.

Penularan HIV Pada Para Remaja
Pada usia remaja, penyebaran HIV yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh hubungan seks tanpa menggunakan pelindung dengan orang yang terinfeksi atau penggunaan jarum suntik secara bergantian. Pendidikan seks terhadap anak-anak dan remaja sangatlah penting untuk membantu pencegahan HIV melalui penularan secara seksual, selain juga memberikan pengetahuan mengenai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (Penyakit Manular Seksual/PMS), termasuk klamidia, herpes kelamin, gonore, hepatitis B, sifilis, and kutil kelamin (genital warts). Banyak PMS yang menyebabkan iritasi, rasa sakit, atau bisul pada kulit dan selaput lendir yang dapat dimasuki oleh virus. Pengidap PMS, seperti contohnya herpes kelamin, telah terbukti memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi HIV bila orang tersebut melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung dengan seseorang yang positif HIV.

Virus HIV akan mati dengan cepat jika berada diluar tubuh manusia. Virus tersebut tidak dapat ditularkan melalui kontak sosial biasa atau sehari-hari saja. Anggota keluarga juga tidak akan terkena virus saat mereka menggunakan gelas minum yang dipakai oleh si penderita. Belum ada kasus dimana anak yang terinfeksi HIV menularkan virusnya ke anak lain didalam lingkungan sekolah.

HIV tidak dapat ditularkan melalui:

bersin

batuk

gigitan nyamuk atau serangga lain

gagang pintu, gagang telepon

makan, minum bersama

peralatan makan/minum

menggunakan wc/toilet bersama

berenang bersama

bergantian pakaian, handuk, saputangan

bersentuhan, berjabat tangan.

berpelukan, berciuman

hidup serumah hubungan sosial lainnya


Infeksi oportunistik

Infeksi oportunistik (infeksi yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh seseorang tengah mengalami penurunan) adalah komplikasi yang sangat sering terjadi pada pengidap HIV/AIDS. Orang dewasa pengidap HIV/AIDS dapat saja terkena infeksi dari bakteri yang pada kondisi normal tidak akan menyebabkan orang yang sehat menjadi sakit (contohnya cryptococcus). Para pengidap AIDS (terutama anak-anak) dapat menderita infeksi biasa dengan dampak yang lebih dahsyat, seperti salmonella (sejenis bakteri yang menyebabkan terjadinya diare) dan cacar air. Pada anak-anak pengidap HIV, infeksi oportunistik dan kondisi seperti di bawah ini sering kali terjadi:

· Infeksi virus, seperti lymphoid interstitial pneumonia (LIP), virus herpes simplex , dan infeksi sitomegalovirus

· Infeksi parasitis, seperti PCP, penyakit radang paru yang disebabkan oleh Pneumocystis carinii, sejenis parasit mikroskopis yang tidak dapat dilawan oleh tubuh yang sistem kekebalannya rendah, dan toksplasmosis

· Infeksi bakteri yang serius, seperti bakteri meningitis, tuberkulosis, dan salmonellosis

· Infeksi jamur seperti esophagitis (inflamasi pada esophagus), dan kandidiasis atau thrush (yeast infection)

Komplikasi lain
Anak-anak pengidap HIV juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker karena sistem kekebalan tubuh mereka yang lemah. Limfoma yang dihubungkan dengan infeksi EBV sering terjadi pada anak-anak pengidap HIV dengan usia yang lebih tua.

Kondisi yang paling sulit untuk diobati pada anak-anak pengidap HIV atau AIDS adalah sindrom wasting (ketidakmampuan untuk menjaga berat badan untuk tetap stabil karena hilangnya selera makan dalam jangka panjang dan infeksi lain yang berhubungan dengan penyakit HIV) dan ensefalopati HIV (karena infeksi HIV pada otak yang menyebabkan pembesaran dan pada akhirnya merusak jaringan otak). Ensefalopati HIV menyebabkan terjadinya demensia HIV, terutama pada orang dewasa. Sindrom wasting terkadang dapat diatasi dengan konseling gizi dan asupan suplemen berkalori tinggi setiap hari, tapi mencegah terjadinya ensefalopati HIV tetap sulit untuk dilakukan.

Pengobatan AIDS dan HIV
Para ahli terus berusaha untuk menemukan penyembuhan untuk infeksi virus AIDS. Ada tiga hal yang harus dilakukan dalam rangka penemuan obat tersebut. Ketiga hal tersebut adalah:

Menemukan obat yang dapat membunuh HIV segera stelah virus tersebut masuk ke dalam tubuh.

Menciptakan vaksin yang dapat mencegah terjangkitnya penyakit.

Memberikan edukasi pada orang-orang di seluruh dunia mengenai bahaya AIDS dan bagaimana mencegah penularan HIV.

obat

Ada dua kemajuan besar dalam hal perawatan pengidap HIV/AIDS selama 20 tahun terakhir. Pertama adalah adanya obat-obatan yang dapat menghambat virus, mencegah atau memperlambat terjadinya AIDS dan membuat orang-arang yang terinfeksi HIV dapat terbebas dari gejala AIDS lebih lama. Kedua adalah adanya pengobatan yang telah terbukti sangat penting dalam mengurangi penularan virus dari ibu pengidap HIV pada anaknya.

Pengobatan dengan obat-obatan
Setelah pengetahuan bidang kedokteran tentang bagaimana cara virus memasuki tubuh dan menggandakan dirinya di dalam sel, semakin banyak, obat-obatan untuk menghambat perkembangan dan memperlambat penyebaran virus dapat dibuat. Perawatan dengan obat untuk HIV/AIDS sangatlah kompleks dan mahal harganya, akan tetapi pengobatan ini sangat efektif untuk memperlambat pembelahan (reproduksi) virus dan mencegah atau mengurangi beberapa efek yang diakibatkan oleh penyakit ini.

Obat-obatan yang digunakan untuk merawat pasien dengan HIV/AIDS
menggunakan setidaknya tiga strategi dibawah ini, yaitu:

· Mengganggu reproduksi materi genetik dari virus HIV (obat-obatan ini diklasifikasikan sebagai nucleoside atau nucleotide anti-retrovirals)

· Menggangu produksi enzim yang dibutuhkan oleh virus HIV untuk memasuki sel-sel tertentu dalam tubuh (ini disebut protease inhibitors)

· Mengganggu kemampuan virus HIV untuk membungkus materi genetiknya dengan viral code – yaitu, kode genetik yang dibutuhkan HIV untuk dapat mereproduksi dirinya (ini disebut non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors [NNRTIs] )

Karena obat-obatan ini bekerja dengan cara yang berbeda-beda, para dokter biasanya meresepkan “racikan kombinasi” dari obat-obatan ini yang harus diminum setiap hari. Terapi ini dikenal sebagai terapi HAART (HAART singkatan dari highly active antiretroviral therapy – terapi antivirus aktif). Salah satu obat dalam perawatan penderita HIV/AIDS adalah zidovudin/ azidotimidin (AZT/retrovir) yang termasuk nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs). Para dokter juga bisa meresepkan obat-obatan untuk mencegah infeksi oportunistik tertentu seperti beberapa antibiotik yang dapat mencegah terjadinya PCP, terutama pada anak-anak.

Meskipun ada sejumlah obat yang dapat digunakan untuk merawat infeksi HIV dan memperlambat terjadinya AIDS, apabila tidak digunakan secara tepat sesuai aturan, virus HIV dapat dengan cepat menjadi resisten terhadap racikan obat-obatan tersebut. Virus HIV sangat mudah beradaptasi dan dapat menemukan jalan untuk mengelabui terapi medis yang tidak dilakukan dengan tepat. Hal ini berarti bahwa bila obat-obatan yang diresepkan tidak dimakan pada saat yang tepat setiap hari, dengan cepat obat-obatan tersebut tidak akan mampu lagi menahan HIV untuk bereproduksi dan mengambil alih sel-sel tubuh. Bila hal ini terjadi, terapi baru harus dibuat dengan menggunakan obat-obatan baru yang berbeda. Dan bila racikan obat-obatan ini tidak digunakan dengan tepat, virus HIV juga akan menjadi resisten terhadap obat-obatan tersebut sehingga pada akhirnya penderita akan kehabisan pilihan terapi pengobatan bagi dirinya.

Disamping kesulitan untuk membuat anak-anak kecil memakan obat mereka sesuai jadwal, obat-obatan juga menghadirkan masalah lain. Ada obat-obat tertentu yang menyebabkan efek samping yang tidak mengenakkan, seperti rasa yang pahit, atau ada juga obat yang hanya ada dalam bentuk pil, yang mungkin sulit untuk ditelan oleh anak-anak. Para orang tua yang harus memberikan obat-obatan ini pada anak-anak mereka harus bertanya pada dokter atau petugas farmasi bagaimana cara yang paling mudah untuk memakan obat tersebut.
Karena jumlah obat yang dijabarkan pada tulisan di atas masih terbatas, para dokter mengkhawatirkan bahwa bila anak-anak tersebut tidak memakan obat mereka sesuai resep (walaupun hanya ketinggalan beberapa kali), virus HIV pada akhirnya akan menjadi resisten terhadap pengobatan HIV yang ada sehingga membuat pengobatan makin sulit atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Karena itu keharusan untuk memakan obat seperti yang diresepkan harus dilipatgandakan. Salah satu pesan paling penting yang harus diingat oleh para orang tua atau pengasuh untuk anak pengidap HIV adalah anak harus selalu memakan obat-obatan dengan teratur, pada saat yang tepat sesuai dengan yang diresepkan oleh dokter. Hal ini mungkin memang sulit dilakukan, akan tetapi banyak tim pendukung keluarga dengan HIV/AIDs dan penyedia jasa pengobatan yang telah berpengalaman yang dapat membantu keluarga tersebut dengan petunjuk praktis untuk membantu mereka agar dapat sukses dalam menjalani tantangan yang mereka hadapi dari hari ke hari.

Pengobatan untuk melawan HIV memang mahal harganya. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh orang-orang, keluarga, komunitas dan negara saat ini adalah bagaimana cara membuat obat-obatan ini tersedia dengan mudah bagi semua yang membutuhkannya.

Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Anak

HIV dapat ditularkan dari seorang perempuan yang terinfeksi HIV kepada bayinya:

Selama kehamilan

Saat persalinan

Saat menyusui


Bila seorang wanita hamil yang terinfeksi HIV mendapatkan pengobatan yang baik secara dini dan mendapatkan pengobatan antivirus secara teratur selama kehamilannya, kemungkinan ia menularkan HIV pada bayinya yang belum lahir akan berkurang dengan drastis.

Tidak semua bayi yang dilahirkan perempuan yang HIV-positif tertular HIV. Waktu si bayi tumbuh dalam kandungan, darah ibu dan bayinya menjadi sangat dekat- tetapi biasanya tidak bercampur. Bila 100 ibu yang terinfeksi HIV masing-masing melahirkan satu bayi, rata-rata 30 bayi akan tertular HIV. Rata-rata virus akan ditularkan pada lima bayi selama kehamilan, 15 lagi pada saat persalinan, dan sepuluh bayi lagi setelah lahir melalui ASI.

Karena itu penting sekali bagi setiap wanita yang hamil dan mengetahui bahwa ia positif HIV untuk memulai perawatan prenatal sesegera mungkin untuk mendapatkan keuntungan dari pengobatan tersebut lebih awal. Lebih cepat si calon ibu menerima pengobatan, lebih besar kemungkinan bayinya tidak tertular HIV.

Seorang ibu yang terinfeksi HIV akan menerima terapi medis sebagai berikut:

· Sebelum kelahiran bayinya. Terapi antivirus yang diberikan ke calon ibu pada trimester ke tiga dapat membantu mencegah penularan HIV pada bayinya.

· Pada saat kelahiran. Pengobatan antivirus dapat diberikan pada ibu dan anak yang baru lahir untuk mengurangi risiko penularan HIV yang dapat terjadi selama proses kelahiran (karena pada saat itu bayi akan terpapar pada darah dan cairan ibunya); sebagai tambahan, si ibu akan disarankan untuk memberikan susu formula bukan ASI pada bayinya karena HIV dapat ditularkan ke bayi melalui ASI.

· Selama menyusui. Karena pemberian ASI tidak disarankan untuk ibu-ibu yang terinfeksi HIV, penularan ini jarang terjadi di Amerika Serikat. Meskipun demikian, di tempat-tempat lain di seluruh dunia dimana susu formula mungkin tidak tersedia, ibu dan anaknya akan diberikan terapi pengobatan untuk mengurangi risiko penularan HIV pada anak yang disusui ASI.

Dimasa lalu, sebelum pengobatan antivirus rutin diberikan, hampir 25% anak-anak yang lahir dengan ibu yang terinfeksi HIV terjangkit penyakit dan meninggal pada usia 24 bulan. Studi yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa pada ibu-ibu pengidap HIV atau AIDS yang mendapatkan perawatan prenatal dan secara rutin mengkonsumsi obat antivirus selama kehamilannya, risiko penularan HIV ke bayinya hanya 5%. Bila bayi-bayi ini tertular virus HIV, mereka cenderungan memiliki muatan virus yang rendah (jumlah virus HIV di dalam tubuh mereka lebih sedikit) pada saat kelahirannya dan memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama tanpa terjangkit penyakit.

Pengobatan Jangka Panjang untuk Anak-anak Pengidap HIV/AIDS
Kasus penularan HIV dan AIDS pada anak-anak sangatlah rumit dan harus dikelola oleh perawat kesehatan yang profesional dan berpengalaman. Anak-anak perlu mendapatkan terapi sesuai jadwal yang harus dimonitor dengan ketat dan disesuaikan secara terus menerus dengan teratur.

Pemberian obat-obatan diatur sesuai dengan muatan virus yang terdapat dalam tubuh anak. Kesehatan si anak juga harus dimonitor dengan pengukuran secara berkala terhadap kandungan sel-T karena sel-sel inilah yang dihancurkan oleh virus HIV. Jumlah sel-T yang tinggi merupakan tanda positif bahwa terapi medis yang dilakukan berhasil mengendalikan virus.

Anak-anak seringkali harus mengunjungi penyedia jasa kesehatan mereka untuk periksa darah, melakukan pemeriksaan fisik, dan berdiskusi mengenai bagaimana mereka dan keluarganya mengatasi tekanan yang diterima sehubungan dengan penyakit yang mereka derita. Imunisasi yang biasa dilakukan pada kunjungan rutin dapat berbeda untuk anak-anak pengidap HIV/AIDS. Bila sistem kekebalan tubuh si anak sudah sangat rendah, ia tidak akan menerima vaksin dengan virus hidup, termasuk vaksin measles-mumps-rubella (MMR) dan varisela (cacar air). Imunisasi rutin lainnya akan diberikan seperti biasa dan vaksin influenza tahunan yang rutin juga direkomendasikan untuk diberikan.

Bila suatu keluarga membutuhkan bantuan darurat di rumah sakit, para orang tua harus memberitahukan pada suster yang merawat anak tersebut bahwa ia mengidap HIV; ini akan memberikan peringatan pada paramedis untuk meneliti kemungkinan adanya tanda-tanda infeksi oportunistik dan menyediakan terapi pengobatan terbaik yang dapat diberikan.

Masa Depan Penderita HIV dan AIDS
Tidak ada obat yang diketahui dapat menyembuhkan HIV atau AIDS. Meskipun terapi yang ada saat ini dapat memperlambat perkembangan penyakit HIV, harapan hidup masih berkurang secara signifikan. Anak-anak yang tertular HIV pada saat kelahirannya, cepat atau lambat akan menderita AIDS dan cenderung mendapatkan komplikasi yang lebih serius daripada orang dewasa yang mengidap virus yang sama. Saat ini, hanya sedikit anak-anak yang terinfeksi virus HIV saat kelahirannya yang dapat hidup hingga dewasa, meskipun banyak sekali kemajuan yang telah dibuat untuk perawatan dan penelitian AIDS.

Meskipun anak-anak, remaja dan orang dewasa pengidap HIV pada akhirnya akan menderita sakit, kemajuan medis dewasa ini dapat memperpanjang usia mereka. Perawatan dengan obat dapat membuat orang yang hidup dengan HIV dapat bebas dari gejala-gejalanya lebih lama dan dapat memperbaiki kualitas hidup orang yang hidup dengan AIDS. Proses pencarian untuk vaksin yang dapat mencegah infeksi HIV masih terus dilakukan. Akan tetapi meskipun vaksin tersebut sudah mulai dibuat, kelihatannya masih akan makan waktu lama untuk bisa digunakan. Karena itulah maka pencegahan HIV masih menjadi topik yang sangat penting di seluruh dunia sampai saat ini.

Penanggulangan HIV dan AIDS
Meskipun telah banyak penelitian dilakukan, vaksin untuk mencegah penularan HIV masih belum ditemukan. Hanya menghindari perilaku yang berisiko saja yang dapat mencegah penularan tersebut. Diantara orang dewasa dan remaja di Amerika Serikat, penularan HIV hampir selalu merupakan akibat dari kontak seksual dengan seseorang yang telah terinfeksi atau penggunaan jarum suntik yang telah terkontaminasi virus. Penularan dapat dicegah dengan cara tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dengan orang lain, menjauhi hubungan seks, atau tidak melakukan hubungan seks baik secara oral, melalui vagina atau secara anal.

Risiko dapat secara substansial berkurang bila selalu menggunakan kondom lateks untuk semua jenis hubungan seksual, dan menghindari kontak langsung dengan darah, sperma, cairan vagina dan ASI dari orang yang telah terinfeksi.

Menghindari penggunaan alkohol dan narkoba juga merupakan kunci dalam penanggulangan penyebaran HIV – bukan karena seseorang tidak dapat tertular HIV secara langsung dari minuman dan penggunaan narkoba, akan tetapi karena penggunaan minuman keras dan narkoba seringkali berujung pada perilaku yang berisiko tinggi yang dihubungkan dengan meningkatnya risiko penularan (seperti melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dan menggunakan jarum suntik secara bergantian).

Media yang paling penting dalam pencegahan HIV/AIDS pada bayi adalah dengan melakukan tes HIV pada semua wanita hamil. Bila hasilnya positif, pengobatan dapat segera dilakukan sebelum si bayi lahir untuk mencegah terjadinya penularan HIV.

Risiko AIDS meningkat dengan cara:
Bertambahnya pasangan seksual
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril (penularan virus masuk melalui pembuluh darah)
Berhubungan seksual melalui lubang dubur (anal)
Perilaku seksual apapun (melalui mulut, dubur atau vagina) tanpa kondom
Minum alkohol atau obat-obatan (konsumsi alkohol atau obat-obatan lainnya menyebabkan kita terdorong untuk melakukan seks tanpa menggunakan kondom)
Tattoo tubuh atau body piercing dengan jarum atau alat yang tidak steril atau terkontaminasi
Membicarakan soal HIV dan AIDS pada Anak Anda

Berbicara mengenai HIV dan AIDS berarti juga berbicara mengenai perilaku seksual – dan bukanlah suatu hal yang mudah bagi para orang tua untuk membicarakan soal perasaan dan perilaku seksual pada anak-anak mereka yang berusia remaja. Seperti juga para orang tua, para remaja juga tidak terlalu mudah untuk terbuka atau mempercayai bahwa hal-hal seperti HIV dan AIDS dapat mempengaruhi kehidupan mereka.
Para dokter dan penasehat medis menganjurkan pada para orang tua untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya dan merasa nyaman dalam membahas masalah seks dan berbagai masalah seperti yang telah disebutkan di atas dengan anak-anak, bahkan sebelum mereka memasuki masa remaja. Karena bagaimanapun, masalah-masalah tersebut menyangkut pengertian mengenai tubuh dan seksualitas, bagaimana hidup sehat, menghormati orang lain dan berbagi perasaan merupakan topik yang sangat penting untuk semua umur (meskipun bagaimana cara orangtua bicara pada anak mereka akan bervariasi tergantung pada usia anak dan kemampuan mereka untuk mengerti). Komunikasi secara terbuka dan keahlian untuk menjadi pendengar yang baik sangat penting untuk para orang tua dan juga anak-anak.

Pihak sekolah juga dapat membantu menyediakan informasi sesuai usia mengenai HIV/AIDS yang dibuat untuk memberikan edukasi pada anak-anak mengenai penyakit ini. Studi menunjukkan bahwa edukasi seperti ini dapat membuat perbedaan yang sangat besar dalam menghentikan perilaku yang berisiko tinggi pada orang-orang muda usia.

Orangtua yang memiliki informasi mengenai bagaimana mencegah HIV dan berbicara secara reguler dengan anak-anak mereka tentang kebiasaan hidup yang sehat, perasaan dan seksualitas, memainkan peran yang sangat penting dalam penanggulangan HIV/AIDS.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar